Anak Perlu Gagal!

Obrolan kali ini agak berbeda dari biasanya, mari kita obrolin tentang parenting.

Pernah gak sih sebagai orang tua ikut sedih saat melihat anak kita gagal? baik dalam hal kecil maupun besar. Semisal anak kita dapet nilai jelek di sekolahnya? atau bahkan tidak naik kelas?

Sebagai orang tua pastinya kita ingin yang terbaik buat anak kita, namun kadang yang terbaik itu menjadi kurang baik karena kita salah menempatkannya.

Kemarin saya ngobrol dengan salah satu teman yang sedang sibuk membuat sebuah prakarnya. Saya tanya baru buat apa? dan ternyata dia sedang mengerjakan pekerjaan rumah anaknya yang masih kecil. Sederhana sih, cuma tempel-tempel kertas aja. Ketika saya tanya lebih lanjut, apa memang anaknya gak ada waktu atau gak bisa ngerjain sendiri ya? katanya, anaknya kesulitan membuat prakarya itu, dan terlebih nilainya sedang turun, sehingga teman saya turun tangan langsung “membuatkan” prakarya itu. Yang menarik adalah dari salah satu jawaban teman saya kenapa dia membuatkan pekerjaan rumah anaknya, jadi dia bilang kalau dia “Kasihan” melihat anaknya.

Mungkin banyak dari kita yang melakukan hal tersebut, membantu anak kita dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dari menemani mengerjakan PR sampai mengambil alih PR tersebut untuk kita kerjakan. Tentu banyak alasan dibelakangnya, dari sekedar supaya mereka tidak sendirian sampai ke alasan malas ngajarin jadi ya biar cepet langsung diambil alih.

Anak saya masih 4 tahun, dan memang belum sekolah dan mendapat PR. Mencoba membayangkan apa yang akan saya lakukan jika nanti anak saya dapet PR dari sekolahnya?

Sampai saat ini sih, saya berfikir kalau nanti tentu saya akan membantunya, tapi dalam batas kewajaran. Dalam arti tidak akan saya ambil alih pekerjaan dia, karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Ternyata pikiran saya tersebut didukung oleh beberapa ahli Parenting.

Jamie M. Howard, Ph.D., seorang psikolog klinis mengatakan, “Justru dengan anak mengalami kegagalan, mereka dilatih bagaimana menjadi individu yang tangguh dan bisa menghadapi kenyataan serta mampu melanjutkan langkah berikutnya.”

Carole Ann Rice, seorang konsultan dari London, Inggris, beranggapan bahwa anak juga perlu belajar dari sejumlah kegagalan. Ia menyarankan agar orang tua tidak bersikap perfeksionis dan tidak meminta anak mengerjakan segala hal dengan sempurna.

Dokter anak Edward Gaydos mengatakan manusia butuh kemampuan untuk mengatasi suatu masalah, tidak peduli berapa usia mereka. Karena itu anak-anak perlu diberi ruang yang nyaman untuk mengalami kegagalan, kemudian mendorong mereka untuk mencoba lagi sehingga mereka bisa membentuk dan menafsirkan sendiri pengalamannya.

Jadi saat anak saya kesulitan nanti dalam mengerjakan tanggung jawabnya dan ternyata tidak bisa atau tidak selesai dengan baik, ada saat nya saya mengatakan “ya sudah kalau tidak bisa, hadapi resikonya!” (Bukan berarti mengajak anak menyerah ya, tentunya saya mengatakan itu tatkala saya melihat anak saya sudah berusaha maksimal untuk mengerjakan hal tersebut) Resiko dimarahi Gurunya, atau mungkin nilainya jelek, atau bahkan tidak naik kelas. Bagi saya sekolah itu bukan cuma tentang nilai Baik, lebih dalam dari itu ada banyak hal yang bisa dipelajari didalam sekolah.

Membiarkan mereka Gagal adalah lebih baik dari pada selalu Berhasil dalam setiap kesempatan, karena hidup tidak seindah itu, dan kita tidak selamanya ada buat anak kita. Biarkan mereka belajar Gagal, sehingga mereka tau ada yang namanya ke gagalan, dan itu hal yang biasa. Bantu mereka untuk segera bangkit dari kegagalan, bukan membantu mereka untuk menjauhi kegagalan. Dari kegagalan akan muncul banyak pembelajaran dari pada keberhasilan, kegagalan mengajarkan lebih banyak nilai berharga dari pada keberhasilan.

Belajar Gagal berarti juga Belajar Berhasil!

salam.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.