Money Happy – Kecerdasan Keuangan

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti Persekutuan Fresh Family GKI Gejayan, persekutuan yang dikhususkan untuk pasangan suami istri muda, dan kali itu bukan ngomongin tentang Alkitab tapi tentang Bagaimana mengatur keuangan – dengan judul Money Happy. Sesi yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini dibawakan oleh bpk Handoyo Prasetyo, seorang yang memang sudah pakar dan profesional di bidang keuangan, dan juga beliau ini sudah menerbitkan 3 buku best seller dan mau lahir buku ke 4 nya.

Sesi diawali dengan memberikan pola pikir baru tentang Uang, salah satunya yang saya ingat adalah uang itu cuma nilai, dan nilai tersebut akan kembali kepada kita jika kita bisa membuat orang lain lebih bernilai dari sebelumnya, atau yang disebut money magnet. Jangan berusahan mengejar uang, tapi buatlah uang yang mengejar kita dengan cara memberi nilai tambah buat orang lain. Yes, dengan membuat orang lain jadi lebih baik! Coba pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk membuat orang lain lebih baik?

Selain itu, bpk Handoyo juga memaparkan bahwa sebenarnya kita BUKAN PEMILIK dari setiap harta yang ada, tapi kita hanya sebagai PENGELOLA. Sehingga ketika jadi pengelola, kita tidak bisa seenaknya menggunakan uang yang ada pada kita, karena uang tersebut ada yang punya. Dan bisa kapanpun si Empunya uang tersebut meminta pertanggungan jawaban kita terhadap uang yang sudah dititipkan kepada kita. Jadi tugas kita selama masih diberi hidup adalah mengelola uang tersebut sebaik-baiknya dan pastinya bukan hanya untuk kepentingan dan kesejahteraan kita saja, namun juga didalamnya ada hak dari orang lain yang harus kita berikan.

Kemudian ditengah sesi bp Handoyo juga memaparkan tentang pentingnya kita bisa menyisihkan uang yang kita hasilkan tiap bulan, bukan menyisakan. Caranya adalah ketika kita terima gaji atau pendapatan nomer satu harus diberesin dulu Pajaknya, lalu kemudian Hutang, tabungan atau investasi, dan Sedekah. Sisa dari itu baru buat kehidupan sehari-hari kita, jangan kebalik!

Dengan sedikit hal diatas membuat uang menjadi hamba, bukan tuannya. Karena kita harus bisa mengendalikan uang dan bukan sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.