Mengeluh lah

Orang sukses itu adalah orang yang tidak pernah mengeluh! selalu bersyukur!

Orang gagal itu adalah orang yang selalu mengeluh, tidak pernah bersyukur apa yang dia punya!

Sepertinya tidak asing dengan kalimat diatas, dan banyak orang yang percaya dengan kalimat diatas, apakah Anda salah satunya?

Tahun 2006 seorang Pastur yang bernama Will Bowen meluncurkan buku yang berjudul “A Complaint Free World’ yang intinya adalah mengajak pembacanya tidak melakukan Keluhan selama 21 hari. Bahkan mereka menjual gelang unggu untuk mengingatkan setiap orang yang mengenakan gelang tersebut untuk tidak mengeluh selama 21 hari.

Pertanyaannya, menurut Anda, 21 hari tersebut menjadi hari yang menyenangkan atau hari yang membosankan?? Saya belum pernah ikut sih, karena bayangan saya 21 hari tersebut akan menjadi hari-hari yang “hampa”..

Walaupun memang landasan teory didalam buku itu bagus banget, disampaikan pula tentang hal-hal yang bisa kita raih saat kita tidak mengeluh lagi. Pun kalau kita coba cari diinternet akan lebih banyak artikel yang meng”haram”kan keluhan, sepertinya kalau kita mengeluh itu kita tidak bahagia.

Tapi mari kita coba telaah lebih dalam lagi tentang keluhan,  seorang filsuf di University of Texas Mariana Alessandri, pernah mengatakan

“Saatnya keluar dari kungkungan ini, saya seorang pengeluh!Dan mengeluh tidak menghalangi kebahagiaan saya; itu membuatku bahagia.”

Karena menurutnya Mengeluh itu bukanlah bukti ketidak bahagiaan tapi dengan caranya sendiri mengeluh itu justru menghasilkan kebahagiaan yang lebih besar.

Hanya karena topik percakapannya negatif bukan berarti kita tidak bahagia, dan seringkali yang terjadi adalah sebaliknya. Justru obrolan tentang tambah macetnya lalulintas Jogja, atau tentang betapa menjengkelkan dosen atau bos kita membuat suasana ngobrol menjadi membahagiakan.

Selain itu, kalau kita sadar kita hidup di jaman yang sangat dimudahkan dengan teknologi disekitar kita. Dan kalau dilihat lebih dalam awal dari teknologi tersebut biasanya diawali dari keluhan orang-orang. Coba bayangkan dulu Thomas Alpha Edison kalau tidak mengeluh gelapnya malam, mungkin sampai sekarang kita tidak bisa menikmati terangnya lampu kamar. Atau bayangkan dulu orang-orang tidak mengeluh tentang betapa tidak profesionalnya ojek pangkalan, mungkin Nadim Karim tidak akan menciptakan aplikasi Gojek.

Kita tau sekarang ada banyak gerakan “keluhan” yang diwadahi organisasi change.org , kalau kita sadar didalam web tersebut banyak sekali keluhan yang mencari pendukung. Sehingga ketika banyak orang mengeluh tentang hal yang sama, nantinya akan didengar pihak terkait dan menjadikan perubahan yang lebih baik.

Ternyata ada juga penelitian yang menunjukan bahwa keluhan itu bisa menurunkan tingkat stress, tingkat frustasi kita, dan juga memberikan energi untuk bisa menghadapi masalah yang kita keluhan. Tentu kita harus tau cara mengeluh yang baik.

Tetapi sekali lagi, yang namanya over itu juga tidak baik. Saya setuju dengan istilah “Jangan SELALU mengeluh”, boleh mengeluh tapi jangan SELALU.

so gimana caranya kita bisa Mengeluh dengan baik?

  1. Periksa Keluhan

    Sebelum mengeluh, periksa keluhan Anda? apa emosi yang mendasari keluhan tersebut? lalu cek juga apakah kata-kata yang digunakan itu bermanfaat dan akurat? apakah kita sudah membesar-besarkan atau mendramatisir keluhan tersebut? dan posisi Anda sebagai korban kah?
    Hal – hal tersebut sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu sebelum keluhan keluar dari mulut kita.

  2. Pertanggung Jawabkan Keluhan

    Hal berikutnya adalah jangan hanya berhenti sampai keluhan saja, apalagi keluhan itu DIULANG-ULANG disampaikan. Maka kalau itu yang kita lakukan, kita hanya akan menjadi pengeluh ulung. Jadi setelah mengeluh, pikirkan apa yang bisa Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Cuma memang ada keluhan yang tidak bisa kita selesaikan sendiri yang sifatnya itu diluar kita, misal “bangun tidur hujan deras diluar, atau ada bencana alam yang terjadi”. Boleh kita mengeluh “waduh hujan deras ni” tapi setelah itu ambil tindakan untuk mengadapinya – pakai payung misalnya.

Jadi teman sekalian, jangan telan mentah-mentah kata-kata public speaker atau pun “Guru-guru” kita. Boleh koq mengeluh, asal pas dan bertanggung jawab!

So, mengeluhlah!!!

salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.