Labeling itu baik

Labeling itu baik..

Setahunan ini saya sudah mengabdikan diri untuk membangun sebuah brand Training Center diJogja, Swaragama Training Center. Kehormatan ini diberikan oleh sahabat saya yang sekarang sedang otw menjadi seorang yang jauh lebih hebat dari sebelumnya di negeri Kincir angin.

Ketika alih jabatan itu terjadi, saya dititipin beberapa anggota tim STC. Walau seluruh anggota tim tersebut saat ini sudah habis semua, tidak tersisa satu pun. Baik ada yang menikah, maupun pulang ke tanah kelahiran, dan juga sudah lulus kuliah lalu lanjut ikut suami ke kota yang lebih jauh.

Ada satu anak yang paling lama bertahan di tim STC ini, baru per Januari ini dia sudah menyelesaikan tanggung jawabnya di STC. Tria namanya.

Ingat banget waktu awal masuk ke tim STC ini, mb Tria saya sering memanggilnya sering menjadi objek yang dipandang kurang pas. Banyak rekan-rekan bukan hanya dari devisi saya yang sering bilang klo anak ini Lemot, jadi kalau ngomong sama dia kudu pelan-pelan dan diulang-ulang supaya lebih dong. Memang tarafnya dalam hal bercanda, dan sudah menjadi hal yang sepertinya lumrah. Karena memang suasana menjadi lebih meriah, dan yang paling penting sepertinya mb Tria ini tidak tersinggung, malah terlihat seneng.

Yang menarik adalah, mb Tria ini memang Lemot! Jadi teman-teman memang tidak bohong.

hmm,, menarik ni..

Saya coba melihat lebih dalam lagi tentang potensi anak ini, yang sepertinya tidak seperti yang sering dibicarakan banyak orang. Anak ini punya potensi besar, asal ada ditangan yang tepat. Beruntungnya lagi, selama setahunan kemarin ada ditangan saya. (mode congkak on)

Dari hal diatas, bukan cuma saya lihat saja namun juga saya sampaikan kepada anak ini klo memang dia punya potensi membesar, eh maksudnya potensi besar. Mulai saat itupun, saya sama sekali tidak menggunakan atau mengeluarkan kata-kata Lemot dkk ketika ngobrol dengan nya. Habit ini pun tertular kepada yang lainnya, walau masih ada oknum yang masih sama. Tidak hanya omongan yang dijaga, tapi juga tanggung jawab pekerjaannya pun saya tambah sedikit-sedikit.

Singkat cerita, dari mb Tria yang saya kenal awal adalah orang “Lemot”, ternyata ketika Labeling buruk itu kita ganti menjadi label baik, hasilnya pun luar biasa, sampai akhir tahun kemarin pun anak ini bisa menunjukan performa yang luar biasa. Tidak terpikir bahwa Tria bisa membuka kelas training, tidak terpikir Tria bisa ikut menjual training ke customer baru, dan juga tidak terpikir Tria bisa menyelesaikan tugasnya di kantor maupun di kampus dengan sangat baik! Terlihat, diakhir masa jabatannya, anak ini diminta direktur utama untuk 1 bulan terakhir mengerjakan pekerjaan lain.

So, apa boleh kita memberi label kepada orang lain?

Tentu boleh, asal label yang kita berikan itu label yang baik terutama, dan juga membangun orang tersebut. Karena label yang kita berikan tersebut akan cenderung menjadi kenyataan dihadapan kita. Misal kita melabel orang lain dengan label Lemot, so otak kita akan peka sekali jika orang ini menunjukan sedikit saja kelemotannya-dan otak kita langsung menangkapnya dan menjadikan pembenaran bahwa memang orang itu lemot. Namun klo label “bisa” yang kita berikan, maka otak kitapun akan mencari pembenaran tetang kebaikan orang tersebut, kebaikan yang kecil akan lebih terlihat.

Apa yang kita pikirkan tentang orang lain, orang lain akan mewujudkannya buat kita.

Buat mb Tria, selamat menempuh petualang baru yang pastinya lebih seru ya,. Nanti klo kurang seru, boleh lho balik STC lagi..

salam.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.