Kamar operasi sesi 2

Abiel, anak pertama dari kami. Setelah pencarian cukup panjang, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan operasi di RS Dr. Sardjito Yogyakarta.

Cerita diawali ketika anak ini lahir dan langsung masuk “Suite room” RS Pantirapih, alias NICU, ICU khusus untuk Bayi. Selang 2 hari dari anak ini lahir, istri melihat ada sesuatu yang berbeda di area mata sebelah kiri anak ini, sepertinya ada yang kurang pas, dan ternyata tebakan istri berbuah pahit, ketika ditanyakan ke dokter ternyata memang salah satu dari sekian banyak hal yang dibawa anak ini adalah permasalahan disekitaran mata. Jadi intinya ada 2 masalah di mata kirinya, yakni diujung mata luarnya kekurangan stok kulit-sehingga ketika tidur matanya tidak bisa tertutup dengan maksimal, dan ini mengakibatkan setiap malam sebelum tidur Abiel harus disaleb dibagian matanya supaya tidak terlalu kering.

Setelah Abiel menyelesaikan PR terbesarnya yakni operasi Jantung di IJN Kuala Lumpur, tibalah saatnya untuk menyelesaikan PR kedua yang tidak kalah penting yaitu Mata. Berhubung kami pernah merasakan kualitas pelayanan kesehatan di Malay, dan kami nilai sangat memuaskan maka rujukan pertama kami untuk operasi ke 2 Abiel akan dilakukan di Malay. Dari mencari rumah sakit, dokter, hingga tanya dengan banyak orang tentang rumah sakit yang paling baik dan dokter yang ahli juga untuk mengoperasi Abiel-kami kebingungan untuk menentukan, karena ternyata cukup banyak rumah sakit dan dokter yang disarankan disana. Ada hal yang menarik dari dokter-dokter bedah plastik di luar negri khususnya di Malay ini, yakni banyak dari mereka yang memiliki sosmed atau bahkan website pribadi untuk menunjukan portofolio pekerjaan mereka, sehingga sebagai calon pasien akan sangat terbantu dengan hal tersebut. Dan sayangnya saya tidak menemukan kasus yang sama untuk dokter-dokter di Indo, karena setelah mencari reverensi di Malay kami juga mencari di Indo, dan kami tidak menemukan data yang lengkap via Internet. Jadi harus datang dan konsultasi langsung.

Kami pun ke Jakarta beberapa kali untuk bertemu dengan dokter-dokter terbaik mata di sana, dari mulai JEC, RSCM hingga Aini, semua kami datangi, kami menilai setiap pelayanan dan dokter-dokter yang kami temui. Ada yang menyenangkan dan meyakinkan, adapula yang  seadanya dan meragukan. Namun saat itu kami meyakinkan diri kualitas dokter di Jakarta sama dengan di KL, jadi keputusan saat itu Abiel akan dioperasi di Jakarta, tepatnya di RS Mata Aini. Sudah dapat dokternya, sudah pula mengetahui besaran biaya yang akan dikeluarkan, dan juga sudah bertemu dengan perwakilan Bank Mata, karena rencana Abiel juga akan di cangkok korneanya.

Tuhan berkata lain, pada saat berkonsultasi dengan dokter di Aini tersebut, beliau berkata kenapa gak di Jogja aja, disana juga ada dokter yang bisa melakukannya, dan bisa pakai BPJS!

Cobalah kami ke RS dr Yap di Jogja untuk bertemu dengan dokter tersebut, walau memang awalnya dokter tersebut mengatakan bahwa ada dokter yang lebih tepat untuk mengoperasi Abiel.

Namanya dokter Tepo, dokter mata di YAP dan Sardjito.

Akhirnya kami bertemu dengan dokter Tepo, dan langsung diminta untuk ke Sardjito saja karena memang di rumah sakit ini lebih lengkap untuk bagian-bagian lain. Jadi jika ada apa-apa bisa segera ditangani oleh bagian lain tersebut. Setelah beberapa kali bertemu dan konsultasi, timbulah tanggal operasi sesi 2 Abiel, dan tanggal itu jatuh di 07 Septermber 2018, Jumat.

Drama dimulai hari Kamis ketika kami harus cari kamar untuk Abiel menginap. Ternyata kamar yang biasa kami tempati di Cempaka Mulya penuhhh, pun juga kamar Kelas 1 fulll. Jalan satu-satunya menurut bagian Admisi RS adalah kelas 2. Saya pun pasrah menerimanya.

Namun ternyata jiwa seorang Ayah saya kemudian bangkit, saya berusaha untuk nego masuk kelas yang paling tinggi, kelas VVIP! namun ternyata ditolak dengan alasan anaknya masih terlalu kecil.

Tidak habis akal, sayapun menghubungi beberapa teman yang bekerja di Sardjito, singkat cerita karena teman saya tersebut akhirnya Abiel bisa masuk kamar VVIP (Emosi awal, yang penting terbaik buat anak, lupa melihat dompet)

Singkat cerita Abiel mulai dioperasi Jumah jam 8.15, kami mengantar sampai depan ruang operasi. TEringat kembali pengalaman kami Desember 2015 ketika kami juga mengantar anak ini untuk operasi jantungnya. Kami orangtuanya KALAH telak dari anak kecil ini, kami berusaha menutup kesedihan ketakutan kami akan operasi yang akan dijalani ABiel. Namun justru Abiel yang bersemangat untuk operasi, memang dari awal kami selalu ngomong sama Abiel apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi atau dibohongi. Kami selalu bilang besok Abiel operasi matanya ya, biar lebih sehat, biar lebih jelas melihat etc. dan ternyata dia TAU! dan MAU! satu-satunya hal yang membuat Abiel menangis bukan karena operasinya, namun karena disuntik.

Seorang perawat akhirnya keluar dari ruang operasi untuk menjemput Abiel dari pelukan kami, hebatnya anak ini, dia mau tanpa adanya perlawanan atau tangisan, walau kami tau raut wajahnya menunjukan sedikit rasa takut.

Operasi pun berlangsung.

1 jam, berlalu.

dan Akhirnya 1,5jam terdengar panggilan dari dalam ruang operasi “Keluarga Anak Abiel!”, ternyata operasi sudah selesai dan istri saya diminta untuk menemani Abiel diruang transit, ruangan yang dikhususkan untuk pasien yang selesai menjalani operasi sembari menunggu kesadarannya meningkat.

Ketika didalam ruang transit itu, istri saya dibuat kagum oleh Abiel dari cerita seorang dokter anastesi, dokter itu cerita kalau saat Abiel dibawa kedalam ruang operasi, tidak ada sama sekali tangisan, bahkan ketika mau dibius, Abiel mau dengan sadar untuk membius dirinya sendiri, karena biusnya menggunakan gas (seperti pas nebul).

Dasar Anak Cerdas!

Akhirnya Abiel sadar, dan otomatis tangisan keras itu pun akhirnya keluar dari mulut kecilnya. Karena pastinya sakit, dan tidak bisa melihat, karena memang satu matanya diperban.

Setelah Abiel diantar ke kamar perawatan, anak ini sama sekali tidak mau membuka mata. Mungkin karena sakit, atau mungkin karena memang masih kaget salah satu matanya tidak bisa melihat.

Tuhan baik, hari sabtu pagi dokter Tepo datang ke kamar untuk melihat Abiel, dan melepas perbanya, kemudian bilang bahwa sudah baik, sehingga perban gak perlu dipasang lagi. diganti dengan penutup mata yang transparan. Dan hari itu sudah Boleh PULANG!

Anak ini memang istimewa, hari sabtu itu dia terlihat sudah pulih 100% sudah bisa lari kesana kemari, ngobrol, makan, nonton Youtube dan lain sebagainya seperti tidak terjadi apa-apa, biasa saja. Gila!!

Kamipun pulang…

Cerita ini ditulis tanggal 14 September, seminggu setelah Abiel masuk ruang operasi.

Puji Tuhan, saat ini perkembangan matanya semakin baik, walau memang harus tetap dijaga tidak boleh kena air ataupun di kucek karena jahitan bisa lepas ataupun bisa kena inveksi.

So, terima kasih untuk my Savior Jesus Christ yang sudah sudi menitipkan jagoan kecil ini untuk keluarga kami, Engkau yang memiliki Abiel, dan pastinya Engkau yang menjaga Abiel.

juga terima kasih untuk dokter Tepo dan tim RS Sardjito! lalu untk rekan-rekan semua #temanAbiel yang sudah mendukung kami baik dalam doa, daya maupun dana! jasa kalian tiada tara!

Untuk kedua orang tua kami, Uti Kakung Waris, Uti Kakung Wikan yang tak henti2nya berdoa untuk kesehatan cucu tersayangnya!

Pakdhe bude Unggul yang juga selalu mendukung kami, terima kasih untuk pinjeman mobilnya!!!

Om tante Maman, untuk doa dan dukungannya!

Teman-teman kantor, Bulik Tiana, Mb Ainun, Tria, Meida, pak Ujang yang sudah datang mewakili keluarga besar Swaragama!

Temen2 HRE, mb Lena, mas Taqin, Mr Rudai, om Madu serta pak Martin yang pas dijogja dan menjenguk Abiel!

lalu juga rekan-rekan yang ikut kelas saya di STC, mb Era, mb Ery, mb There, mb Neneng, mas Rakas yang mengejutkan datang berkunjung!

Pun juga untuk Bundar! ibu Ndaru! yang sudah sangat membantu Abiel untuk bisa mendapatkan perawatan terbaik di Sardjito! kamu hebat! sama om Anton juga yang selalu datang disaat Abiel nginep di rumah sakit, terima kasih om untuk perhatian hebatnya!

Serta teman-teman yang memberikan dukungan dan doa baik secara langsung ataupun via dunia maya yang tidak bisa saya sebut kan satu-satu karena buanyaaaak, terima kasih buanyaakk…

dan spesial untuk ibuknya Abiel, istri saya Agustina Kurniari Kusuma ,S.Fam., Apt. kamu mengajarkan kepada saya apa yang disebut Cinta!

salam.,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.