Tuhan masih ada?

Martin Wall adalah seorang tahanan perang di Siberia, saat tertangkap Dia meninggalkan Istri dan Anaknya. Namun yang tidak diketaui Martin adalah istrinya ternyata sedang mengandung, sehingga ketika Martin dalam penjara anak keduanya pun lahir.

Ketika dibebaskan dari penjara, tubuh Martin sangat lemah, banyak bekas-bekas luka penyiksaan saat dipenjara. Ia sadar harus segera mencari keluarganya, namun setelah mendapat kabar dari Palang Merah, Martin mengetahui bahwa istri dan anaknya sudah meninggal saat mengungsi.

Seluruh hidup Martin pun seperti tidak ada artinya, ia berhenti berdoa dan merasa Tuhan tidak pernah menolongnya.

Namun yang tidak diketahui Martin, bahwa ternyata yang meninggal dalam pelarian adalah istrinya, sedangkan kedua anaknya masih hidup dan harus tinggal disebuah panti asuhan. Ketika istri Martin meninggal, dia berpesan kepada anak pertama laki-lakinya untuk selalu menjaga adik perempuannya.

Saat Martin mulai menemukan gairah hidupnya dengan bekerja dan menikahi seorang teman lamanya-Greeta, pasangan ini sadar bahwa mereka sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Sehingga Greeta minta ijin untuk mengadopsi seorang anak, Martin pun akhirnya mengijinkan dengan syarat hanya 1 anak yang boleh diadopsi. Kemudian Greeta pergi ke salah satu panti asuhan yang letaknya jauh dari rumah mereka. Sesampainya di panti asuhan tersebut, Greeta melihat bahwa banyak anak-anak korban perang yang membutuhkan kasih sayang. Namun tiba-tiba ada gadis kecil yang lari menghampirinya, dan Greeta pun melihat hal tersebut sebagai jawaban Tuhan, sehingga ia berkata kepada gadis kecil tersebut untuk pulang bersamanya. Namun gadis kecil tersebut memberi 1 syarat kepada Greeta, kalau ingin membawaku-bawa juga kakak ku, syarat dari gadis kecil itu.

Greeta teringat pesan dari Martin untuk hanya membawa 1 anak saja, namun pilihannya sudah jatuh kepada gadis kecil ini, sehingga kemudian Greeta mengajak Martin untuk menemui 2 anak ini dipanti asuhan. Dan benar, hati Martin luluh oleh kedua anak tersebut, dan mengijinkan 2 anak itu untuk pulang bersama mereka. Ketika Martin mengurus surat-surat administrasi, ia tiba-tiba berteriak memanggil Greeta. Greeta langsung lari berlari kepadanya sambil menangis, “Martin! ada apa?”.

“Greeta, bacalah nama-nama ini!” disorongkanlah kertas itu kepada Greeta, dan ketika membaca surat itu ternyata kedua anak itu adalah anak-anak dari Martin!

“Oh, Greeta, mereka anak-anakku sendiri! ini putraku tersayang yang kukira sudah mati, dan ini putriku yang tak pernah kuketahui kelahirannya! Kalau bukan karena kau ingin mengadopsi anak, atau karena hatimu penuh cinta, aku takkan mungkin mendapat keajaiban ini!” Ia memeluk putrannya dan menangis, “Oh, Greeta, Tuhan memang ada.”

Kadang sebagai seorang manusia yang lemah, sering kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang sepertinya membuat kita harus berjuang sendiri, “satu-satu nya” tempat untuk bersandar pun sepertinya tidak ada. Semua jalan terlihat buntu! tidak ada jalan lain! dan saat itulah kita menyerah dan mulai menyalahkan hal-hal diluar kita.

Sama seperti Martin, yang melihat hidup bukan lagi sesuatu yang berharga! masalah yang terus datang silih berganti seperti menutup kebesaran Tuhan di hadapanya. Tuhan seperti sudah tidak hadir dalam hidupnya.

Namun yang harus kita tau, Rencana Tuhan itu bukan rencana kita yang tau ujungnya dimana. Ketika kita berserah bukan menyerah, kuasa Tuhan akan bekerja untuk hidup kita. Pasti diujung jalan, kita akan tau bahwa rencanaNya jauh lebih indah dari rencana kita. Yang kita harus lakukan hanya terus berserah dan terus berusaha menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan bagian kita, bagian Tuhan biar Tuhan yang atur.

Sehingga sejak awal kita ketemu dengan masalah hidup, pegangan kita tetap sama bahwa Tuhan itu ada.

salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.