Tangible & Intangible Community

Sepulangnya dari Jakarta akhir tahun 2014 lalu untuk kembali ke kota kelahiran, terbersit harus segera menemukan komunitas yang tepat. Walau kota kelahiran, tapi setelah ditinggal beberapa tahun merantau ke ibu kota ternyata banyak kawan yang sudah pergi juga ke kota lain untuk mencari rejeki. Sehingga walau statusnya kembali ke kota kelahiran tapi seperti pindah ke kota yang baru karena kenalan cuma sedikit yang masih menetap.

Tidak seperti yang dibayangkan dulu, dulu waktu liburan dan pulang ke kampung sepertinya banyak kawan yang siap untuk ber reuni kembali, sepertinya kampung menawarkan keramahan kawan lama. Tetapi beda kasus kalau sudah kembali dan menetap bukan sekedar liburan, kawan yang dulunya semangat untuk bereuni, sekarang sudah masuk ke tahap “biasa”, dalam arti mereka juga punya kehidupan dan waktu sendiri. Memang waktu liburan dulu mereka sangat antusias untuk bertemu dan berkumpul, karena memang momennya jarang sehingga jadi berharga. Sedangkan sekarang, momennya jadi setiap hari, siapa yang mau reuni setiap hari, namanya bukan reuni itu. Tapi sekolah!

Sehingga sendirilah sekarang, harus mulai dari awal untuk menghubungi kenalan-kenalan lama yang sudah lama tak berjumpa. Untungnya kita sekarang hidup di era yang sudah canggih, untuk silahturahmi tidak harus datang ke rumahnya, ataupun berkirim surat yang datangnya entah kapan. Cukup dengan melihat di kotak kecil yang sering dikantongi yang mengeluarkan cahaya dan suara, dan seketika itu kita bisa menyapa teman lama kita dengan “hai bro/sis gimana kabar?”, dan cling seketika silaturahmi langsung “terhubung”.

Mulailah berburu nomer-nomer rekan yang masih tersimpan rapi di dalam kotak tersebut, walau kadang terbesit masihkan mereka menggunakan nomer yang sama waktu SMP SMA Kuliah dulu? atau sudah berganti baru?? Sampai pada akhirnya ketemu dengan beberapa “tokoh kunci” yang kemudian membukakan pintu silaturahmi kepada kawan yang lain.

Sekarang kalau mau dilihat didalam WA saya, kurang lebih ada 20an grup. Dari Grup SD, SMP, SMA sampai grup jualan komuditas juga ada. Dulu memang awalnya terganggu dengan grup-grup ini, apalagi grup yang hyper aktif! yang setiap detik ada aja orang yang post, dan ada aja hal yang dibahas. Tapi akhirnya menyadari justru dengan Grup ini silahturahmi digital tetap terjaga dan terikat.

Jadi apa fungsi kita punya komunitas? baik yang tangible & intangible ? banyak orang yang mendiskripsikan dengan banyak teori yang ada, tapi sekarang mari kita bahas dengan bahasa yang lebih sederhana saja ya. Semoga kawan diluar sana yang terganggu dengan grup yang aktif boleh membaca ini dan tidak cepat-cepat untul leave grup.
Salah satu manfaat yang diterima ya punya banyak teman, dan teman-teman yang lain masih ingat kita ada dan eksis. Bayangkan kalau kita punya banyak teman dan kawan, betapa nikmatnya hidup ini. Kemana-mana punya kawan, mau butuh apapun teman siap membantu, kita butuh bantuan pun banyak teman yang siap mengulurkan tangannya, tapi bukan hanya pusatnya di “saya”, tapi mari kita sedikit lencengkan pusatnya ke “mereka”. Kita jadi bisa membantu kawan, kita jadi bisa menyediakan tempat untuk berteduh kawan kita yang dari luar kota, kita jadi bisa berbuat baik untuk kawan kita, dan yang lain yang lainnya juga.
Orang bilang antara take dan give itu berjalan seimbang, bukan cuma take aja tapi gak pernah give.

salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.