as a Driver

Kali ini saya meng iyakan ajakan untuk mengantar beberapa teman marketing sebuah perusahaan Training di Jogja, yang notabene adalah mantan perusahaan saya dulu.
Yang menarik kali ini saya membantu bukan sebagai Trainer yang seperti biasanya saya bekerja sama dengan perusahaan ini, melainkan menjadi seorang driver, alias supir. Iya supir yang membawa penumpang untuk bepergian ke berbagai tempat, ya walaupun perusahaan ini tidak mengajak saya as a supir, tapi saya berusaha menempatkan diri saya sebagai seorang supir yang baik.

Banyak yang bisa dipelajari dari seorang Supir ini, pekerjaan yang mungkin dianggap sebelah mata oleh banyak orang, tetapi sejatinya seorang supir adalah
orang yang punya tanggung jawab besar! tanggung jawab untuk membawa penumpang yang sebagai Juragannya supaya sampai dengan selamat ke tempat tujuan, tanggung jawab untuk membawa mobil yang harganya tidak murah tetap utuh dan mulus setiap saat, tanggung jawab untuk tetap bisa dipercaya Juragan untuk bisa menemukan jalan terbaik menuju tujuan supaya lebih cepat ataupun lebih nyaman selama perjalanan, dan tanggung jawab untuk orang atau kendaraan lain sekitar.

Meleng sedikit saja, nyawa taruhannya. Bukan nyawa sendiri, tapi nyawa orang lain.

Para penumpang yang ikut dalam mobil yang saya kendarakan mau gak mau, suka gak suka akan ngikut kemana saya membawa mobil ini, karena mereka tidak tau jalan menuju ketujuan, dan mereka tidak tau cara nyupir mobil. Kalaupun mereka saya “tipu” dengan mengambil jarak yang lebih jauhpun sepertinya tidak akan tau dan sadar, karena apa, karena mereka tidak tau jalan.
Jadi tujuan mereka boleh jadi mereka yang tentukan, tapi realitasnya bisa jadi supir yang menentukan.

Sadarkan kita dalam kehidupan kita kadang kita seperti itu, kita sudah tau ni tujuan hidup kita mau kemana, tapi jalan untuk menuju kesana itu yang kita tidak tau pasti. Dan kalau kita tidak mempelajari peta, belajar cara nyupir, dan belajar cara mencari jalan pintas (jalan pintas tidak selalu negative), maka siap-siap saja setir kehidupan kita dikendalikan oleh orang lain. Syukur kalau orang lain ini bisa dipercaya sehingga kita bisa sampai tujuan, tapi kalau orang ini ternyata tidak bisa dipercaya, mau sampai mana kita?

Dalam hidup ini, apakah kita sudah menjadi Supir dari kehidupan kita?? Atau sampai sekarang kita masih menjadi Supir dari orang lain??

Mari kita lihat bebera faktor ;
Faktor pertama yang menjadi pertanyaan adalah dalam memilih pekerjaan.
Apakah pekerjaanmu sekarang membawa kepada mimpi atau tujuan hidupmu? Atau justru membawa kamu semakin menjauh dari tujuan sebenarnya hidupmu?
Salah satu Juragan saya yang saya sedang supiri ketika keJakarta ini sedang bimbang dengan pekerjaannya, beliau berpikir bahwa pekerjaannya sekarang sepertinya kurang cocok, beliau bercerita kalau sebenarnya kerinduan nya adalah sebagai penjait, tetapi sekarang posisi yang beliau kerjakan sebagai seorang marketing plus sales produk organik. Kalau kita lihat kasus tersebut, apa yang sebaiknya Juragan saya ini lakukan setelah pulang dari Jakarta??

Mari kita lihat sekali lagi dalam pekerjaan kita, kalau ternyata pekerjaan kita sudah mendekatkan dengan mimpi kita, good, lanjutkan! tapi kalau ternyata selama ini ternyata justru menjauhkan dari mimpi kita, hmm better thing again about your job!

Faktor yang kedua, apakah ketika memilih pasangan hidup, kamu tetap bisa mendekat dengan tujuan hidup kalian berdua, atau justu saling menjauhkan dari mimpi kalian berdua?

Banyak orang yang menikah hanya karena dorongan hasrat manusiawi saja, mungkin masih sedikit pasangan yang akan menikah mendiskusikan dahulu mimpi tiap pribadi sehingga kemudian menghasilkan mimpi berdua yang mengakomodasi tiap mimpi individu. Jadi setelah sah menjadi suami istri baru kaget keduanya, sang suami pengen ke utara eh ternyata sang istri mau keselatan, yang ada malah akhirnya semua ke barat.

Faktor yang ketiga adalah ketika memilih jurusan kuliah, coba lihat sekarang fresh Graduate yang melamar pekerjaan, banyak dari mereka yang antara jurusan kuliah dengan pekerjaan kagak cocok sama sekali, ada yang jurusan perikanan jadinya kerja sebagai Account Officer di dunia perBankan, atau bahkan ada yang jurusan IT yang akhirnya bekerja sebagai seorang Trainer. Memang banyak alasan yang mengatakan bahwa jurusan kuliah tidak menentukan pekerjaan. Tapi mari kita coba bayangkan, jika latar belakang pekerjaan kita sama dengan pekerjaan kita, lihat betapa efektifnya kita. Tidak perlu belajar banyak lagi untuk bekerja, tinggal synchronizes sebentar antara ilmu yang kita punya dengan kondisi lapangan tempat kerja kita, udah langsung bisa kerja.

Faktor keempat adalah lingkungan kita, apakah sekarang kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang akan membawa kita mendekat dengan mimpi kita, atau justru menjauhkan? Lingkungan bukan hanya dalam keluarga, tetapi kelingkaran yang lebih luas lagi.
Kalau kita ingin menjadi seorang pengusaha di bidang kuliner, apakah selama ini kita sudah bergaul dengan mereka para jagoan kuliner? Atau malah kita bergaul dengan teman-teman yang tidak ada hubungannya dengan kuliner?
Kalau kita ingin jadi seorang karyawan yang sukses, apakah selama ini teman-teman kita membagikan virus positif untuk bekerja dengan penuh antusias, atau malah kita dipenuhi dengan rekan-rekan kerja yang kerjaannya tiap saat ngedumel tentang pekerjaan mereka?
Mari kita lihat orang-orang sekitar kita, apakah mereka “baik” bisa mengantarkan ke tujuan hidup kita? atau justru membawa menjauh dari tujuan hidup kita?

Teman-teman dan saya sendiri, sekarang mari kita renungkan apakah lingkaran bulat yang kita sebut setir itu kita sendiri yang pegang, atau orang lain?
Kalau memang kita sudah memegang setir kita, mari tetap pertahankan setir kehidupan kita dengan tetap belajar bagaimana membaca peta dengan baik, belajar cara menyapa sesama pengguna jalan, belajar bagaimana mencari jalan pintas ke tujuan kita, dan tentu belajar peraturan lalu lintas supaya tidak berurusan dengan pihak berwajib.
Tapi kalau setir kita masih dipegang orang lain, jangan buru-buru merebutnya! setidaknya belajar cara nyupir dulu. Kalau kita karyawan, jangan buru-buru resign dengan alasan mau kerja sendiri, tapi persiapkan diri dulu sebelum memutuskan berhenti.

Mari menjadi supir atas kehidupan kita sendiri..

salam,
Gideon Surya
God Bless

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.