Tidak ada Guru, tidak ada Murid

Saya tertipu, bukan dalam arti sebenarnya, tapi dalam arti lain. Pada saat saya ada kerja sama proyek training dengan sebuah perusahaan minyak dari Jepang yang sekarang lagi heboh tentang blok Masela, saya tertipu. Iya saya merasa tertipu dengan penampilan seseorang, seseorang yang ketika dilihat mungkin banyak orang termasuk saya akan menilai bahwa orang ini orang biasa yang tidak tau apa-apa dan hanya pekerja biasa di perusahaan tersebut, dan mungkin kalau seandainya saya berkesempatan untuk ngobrol dengan orang ini sebelumnya, mungkin juga obrolan saya akan sangat dangkal. Dangkal bukan karena orang ini, tapi karena sistem otak saya sudah memberikan label bahwa orang ini biasa saja dan tidak ada yang spesial di orang ini.
Hal ini karena dari penampilan beliau  begitu sederhana, dengan setelan baju putih yang sepertinya kedodoran, dan perawakan beliau yang bisa dibilang kurus, stigma itu kemudian meluncur secara otomatis dalam pikiran saya.
Tetapi hal itu berubah 180 derajat ketika salah satu manager HRD mempersilahkan orang tersebut untuk tampil didepan! Iya tampil didepan! Bukan untuk mengajar karena beliau bukan trainer, tapi untuk berbagi pengalaman dengan para peserta. Berbagi pengalaman beliau selama puluhan tahun berkarir di bidang perminyakan.
Pasti bisa ditebak selanjutnya, orang tersebut ternyata salah satu “orang penting” diperusahaan tersebut.
Kadang kita sering kali ketemu dengan kejadian seperti ini, orang yang kita anggap biasa saja ternyata menyimpan sesuatu yang besar dibelakangnya.
Kemarin waktu kelas menulis bersama komunitas kamis menulis Jogja, terdengar dari pembicara sebuah statment yang sepertinya menarik untuk dibahas. Beliau berkata “Tidak ada Guru, tidak ada Murid”, bukan dalam artian kalau tidak ada guru berarti tidak ada murid, tetapi lebih kearah kondisi saat kelas tersebut, dengan kata lain pembicara berusaha membuka mindset kami supaya ketika kelas berlangsung kami dapat belajar dari siapapun  di kelas tersebut, tidak hanya dari pembicara. Dan tidak mentup kemungkinan pembicara juga belajar dari peserta.
Sama halnya dalam hidup keseharian kita,kadang kita merasa lebih hebat lebih tau dari orang yang “sepertinya” tidak hebat maupun tidak tau dari kita. Ketika mindset ini terus bergema secara tidak sadar dalam otak kita, siap siap saja dunia kita akan semakin mengecil.
Mari kita mulai bicara dengan orang orang baru, belajar dari pengalaman mereka, dan biarkan mereka juga belajar dari hidup kita. Akan banyak hal yang menarik di dalam hidup orang lain yang mungkin akan “mengajari” kita bagaimana hidup lebih baik, dan dijamin dunia kita semakin luas dan teman kita semakin banyak.
salam.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.